4 September, 2017 10:23

Standard

Top 5 Radio Pendengar Terbanyak di Surabaya

Sudah lama saya ingin tahu siapa radio dengan pendengar terbanyak di Surabaya. Dulu saat saya masih bekerja di SCTV, salah satu pekerjaan saya memantau hal seperti ini. Di dunia TV hal itu namanya rating. Hampir sama di media surat kabar yang namanya tiras.

Bagi pengelola media mencermati jumlah pembaca/pendengar/permirsa adalah perlu. Karena dengan memiliki konsumen (pembaca/pendengar/permirsa) berarti program (produk) yang dibuat banyak dinikmati. Dampaknya adalah akan menarik pemasang iklan atau naiknya harga iklan, khususnya di program-program yang laris.

Dari informasi yang saya terima, Top 5 Radio dengan pendengar terbanyak di Surabaya adalah: 1. Suara Giri
2. Wijaya
3. Suara Muslim
4. Media Fm
5. Suara Surabaya

Ternyata kalau melihat susunan ranking ini, ada beberapa hal yang bisa ditarik kesimpulan:
1. Ternyata radio hiburan khususnya radio dangdut tetap menyedot pendengar terbanyak. Jadi kadang dibully, 2 radio dangdut boleh menepuk dada karena mampu menjaring pendengar terbanyak.
2. Radio Suara Surabaya (SS) bukan nomor 1 , bahkan menduduki posisi buncit di Top 5. Dulu saya kira radio ini meraih pendengar terbanyak. Kalau saya lewat kampung, pasar atau pertokoan, banyak terdengar radio SS. Belum lagi di mobil pasti banyak mendengar radio SS.
3. Radio Suara Muslim ternyata sebagai alternatif pilihan. Mungkin orang sudah bosan dengan radio hiburan atau informasi, lalu mendengarkan radio dakwah.
4. Jujur saya tidak tahu radio Media Fm. Jangankan mendengarkan radio ini, baru kali ini saya tahu ada radio bernama Media Fm. Dari internet, radio ini adalah radio hiburan.

Bagaimana dengan saya?

Saya sebenarnya sudah jarang mendengarkan radio. Kalau bekerja, saya lebih senang ditemani dengan pengajian-pengajian yang didengarkan lewat Youtube. Mereka itu adalah Abdul Shomad, Lc, MA, Dr Aam Amiruddin dan Tengku Hanan Attaki. Alhamdulillah, ada internet. Jadi meski saya tidak pernah bertemu dengan mereka, hampir semua ceramah sudah saya dengarkan.

Kalau ada kesempatan mendengarkan radio, saya hanya mendengarkan radio Suara Muslim di pagi hari. Dan sekali-sekali radio Suara Akbar. Meski di mobil pun saya tetap mendengarkan radio tersebut. Menempuh jalan saya sudah yakin untuk meninggalkan radio Suara Surabaya. Kalau macet ya dinikmati. Hehehe. Mungkin sudah masanya bagi saya, saya banyak mendengarkan radio dakwah ini. Hehehe.

Bagaimana dengan Anda? (*myusuf/20170904/vica)

Advertisements

Enak Jaman Sekarang ya?

Standard

Ada kebiasaan baru yang saya lakukan terakhir-terakhir ini, yakni mendengarkan radio streaming dan youtube sambil bekerja atau belajar.

Sebenarnya kalau mendengarkan radio streaming sudah lama, tapi ini mendengarkan radio-radio yang lokasinya jauh seperti di Jogja, Jakarta dan Bandung. Dulu mendengarkan radio streaming tapi ya radio lokal karena sinyalnya jelek sehingga lebih enak mendengarkan lewat streaming.

Mendengarkan rasanya aneh begitu. Betapa aneh karena sepertinya saya tinggal di sana bahkan hadir di masjid seperti saat mendengarkan kuliah Subuh Aa Gym di pondoknya, Daarut Tauhid. Memang beberapa kali saya datang ke sana. Tapi saya tidak pernah ikut kegiatan di sana sebagai santri.

Demikian juga saat menyaksikan kegiatan-kegiatan sehari-hari atau mendengarkan sambutan/pidato/ceramah para pembina di pondok Gontor. Saya memang pernah tinggal beberapa hari. Tapi tentu saja tidak merasakan pernah sebagai santri. Tapi menyaksikan tayangan Youtube seakan bisa merasa hadir di sana.

Begitu juga saat menyaksikan ceramah-ceramah di masjid Trans Studio Bandung. Seakan hadir di sana menyaksikan Tengku Hanan Attaki. Bahkan jadi merasa benar-benar hadir di sana saat penceramahnya kadang menggunakan bahasa Sunda. Sesuatu yang jarang saya dengar di kota Surabaya dan Sidoarjo ini. Hehehe.

Jaman sekarang memang enak. Bisa membawa badan kita melayang menghadirkan diri ke tempat-tempat jauh. Bila saya bisa bahasa asing seperti Jerman, Perancis, Inggris mungkin saya bisa lebih banyak mengembara mencari ilmu.

Sungguh luar biasa jaman sekarang ini. Bagaimana menurut Anda?

Mati karena Stres

Standard

Hari ini di grup WA saya banyak membahas kematian 2 direktur BUMN terkenal yang mati mendadak. Mereka masih muda, rajin olah raga, tidak merokok dan menjaga makanan. Menurut WA itu mereka meninggal karena stres. Jadi streslah penyebab kematian.

Yang belum dibahas di grup itu adalah apa penyebab stres. Pengalaman saya, stres karena disebabkan pekerjaaan. Dan banyak pekerjaan yang penuh tekanan itu adalah para pegawai. Mereka harus bekerja dengan jam kerja tertentu. Bila terlambat, potong gaji. Tapi kalau pulang, selalu terlambat. Itu ditambah pekerjaan yang bertumpuk-tumpuk yang harus diselesaikan dengan segera.

Lalu bagaimana cara sebagai pegawai tapi tidak stres? Ada saran? Bagaimana menurut Anda?